Cara Rasulullah Memuliakan Anak Yatim

Rasulullah SAW terkenal sangat perhatian dan menyayangi anak yatim. Bukan saja disebabkan karena Beliau dilahirkan sudah dalam keadaan yatim, terlebih juga karena Allah Ta’ala di dalam Alquran secara khusus memberikan tempat yang istimewa bagi para yatim ini yaitu dalam QS. Ad Dhuh ayat  6 – 11.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur].”

Sedemikian pentingnya hal ini, Rasulullah SAW berkata,

“Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya [memperhatikannya] kelak pada hari kiamat” [HR. Ath- Thabrani].

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah Ta’ala akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat. Allah subhanahu wa ta’ala mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”

Rasulullah SAW juga menganjurkan supaya kita mengusap kepala mereka, agar merekapun merasakan kasih sayang dan memperoleh perasaan diayomi sebagaimana anak-anak lain pada umumnya. Selain itu juga mengusap kepala mereka dan memberi makan orang miskin/dhuafa dapat melembutkan hati yang keras.

Sebagaimana pada QS. Ad Dhuha ayat 9 diatas telah jelas bahwa Allah SWT melarang kepada siapapun melakukan tindakan sewenang-wenang kepada anak yatim.

Bertindak sewenang-wenang di sini bisa diartikan baik tindakan verbal/ucapan seperti mengejek atau menghina maupun tindakan non verbal seperti berlaku kasar, tidak memberikan hak-haknya dan menelantarkan mereka.

Sangat besar kemurkaan Allah SWT kepada orang-orang yang sewenang-wenang terhadap anak yatim sampai-sampai menyebutkan bahwa orang yang memakan harta anak yatim sama saja dengan memasukkan api neraka ke dalam perutnya.

Dalam surat Al-Maun juga ditegaskan, celakalah bagi orang-orang yang melaksanakan sholat namun berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Orang-orang itu bahkan disamakan dengan para pendusta agama, karena bersedia melaksanakan perintah Allah yang satu, namun mengingkari yang lainnya.

Dengan demikian sangatlah jelas bahwa melayani dengan baik termasuk menyantuni anak yatim merupakan amalan yang sangat besar pahalanya, dapat membawa seseorang pada derajat yang mulia atau surga dan sebaliknya bisa menjebloskan seseorang yang mensia-siakan anak yatim ke lembah kehinaan atau neraka.

Maka adalah kewajiban kita berlaku sebaik-baiknya untuk memuliakan anak yatim, agar ridho Allah Swt dan RasulNya senantiasa mengiringi hidup kita di dunia sampai nanti di akhirat kelak.

Pencarian dari Google:

Leave a Reply